Kuliah Umum PS Agroteknologi Hadirkan Dr.rer.nat. Sarjiya Antonius dari LIPI

dr-antoniusSenin, 28 November 2016 bertempat di Auditorium Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto berlangsung Kegiatan Kuliah Umum Program Studi Agroteknologi. Hadir sebagai pembicara adalah Dr.rer.nat. Sarjiya Antonius, seorang pakar dari Laboratorium Mikrobiologi, Pusat Penelitian Biologi LIPI Cibinong, Bogor.

Kegiatan kuliah umum dimulai dari pukul 07.30 sampai dengan pukul 12.00 WIB. Tema yang diusung adalah “Bersinergi dan Menggali Potensi Sumberdaya Alam Hayati untuk Menyongsong Pertanian Masa Depan”. Menurut Ketua Panitia, Ahadiyat Yugi Rahayu, S.P., M.Si., D.Tech.Sc. acara tersebut bertujuan untuk membuka wawasan dan pengetahuan khususnya mahasiswa PS Agroteknologi mengenai potensi sumberdaya alam hayati, dalam hal ini organisme mikro, dalam mendukung pertanian berkelanjutan di lahan-lahan marjinal.

Pada kegiatan kuliah umum tersebut, pembicara tamu, Dr.rer.nat. Sajiya Antoniues membawakan sebuah topik mengenai keunikan mikroorganisme tanah dalam upaya rehabilitasi lahan (bioremediasi) terutama akibat penggunaan pupuk anorganik dan pestisida sintetik yang berlebihan pada lahan pertanian. Doktor lulusan University of Bayreuth, Bavaria-Germany ini mengungkap dampak buruk penggunaan agrokimia (pupuk anorganik dan pestisida sintetik) terhadap mikroorganisme tanah yang berperan penting dalam membantu kesuburan tanah. Akibatnya tanah-tanah pertanian semakin menurun daya produktivitasnya. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya untuk mengembalikan tingkat kesuburan tanah melalui penggunaan agen-agen hayati (mikroba). Hasil penelitian yang dilakukannya menunjukkan senyawa agrokimia dapat didegradasi oleh mikroba sehingga tidak lagi meninggalkan residu yang berbahaya bagi kondisi lingkungan pertanian.

20161128_084631

Peserta Kuliah Umum PS Agroteknologi Unsoed 

Namun, Dr. Anton mengungkapkan bahwa penggunaan pupuk hayati meskipun terbukti sangat baik bagi peningkatan kualitas tanah, namun memiliki sejumlah kelemahan. Beberapa di antaranya adalah hasil kerja pupuk hayati baru dapat dilihat dalam jangka waktu yang relatif lama dibandingkan pupuk kimia sintetik dan daya simpannya tergolong pendek. Kelemahan-kelemahan ini menghadirkan tantangan yang harus ditaklukkan. Salah satu kelemahan yang sudah dapat diatasi oleh Dr. Anton dan Koleganya di LIPI adalah dengan membuat formulasi pupuk hayati dalam bentuk padatan sehingga daya simpannya bisa lebih lama (dapat mencapai 5 tahun), dibanding bentuk cair yang daya simpannya sekitar 1 tahun. Sementara untuk mengatasi kelemahan hasil kerja yang lamban, Dr. Anton sedang melakukan penjajakan untuk melakukan kerja sama riset dengan para ahli biologi molekuler (bioteknologi) agar mikroba yang digunakan sebagai pupuk hayati dapat didorong bekerja lebih optimal dan konsisten melalui sejumlah rekayasa molekuler (snh).