Profesor Totok Agung, Berbagi Wawasan “Ketahanan Pangan” Kepada Ikatan Mahasiswa Muslim Pertanian Indonesia

prof-totok

Prof. Totok Agung DH, Guru Besar Pemuliaan Tanaman PS Agroteknologi

Dalam sebuah acara Seminar Nasional Pertanian yang diselenggarakan Ikatan Mahasiswa Muslim Pertanian Indonesia (IMMPERTI), pada akhir bulan November 2016 lalu, Prof. Ir. Totok Agung D.H., M.P., Ph.D, Guru Besar sekaligus Dosen Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Unsoed menjadi salah satu pembicara tamu. Dalam acara yang dihadiri para mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia tersebut (dari Medan sampai Papua), Prof. Totok Agung mengawali presentasinya dengan mengajukan beberapa fakta mengenai keunggulan Indonesia dibanding negara-negara lain, seperti memiliki keanekaragaman hayati nomor 2 terbesar di dunia setelah Brazil, memiliki garis pantai terpanjang di dunia, memiliki ribuan pulau baik besar maupun kecil, sinar matahari yang selalu tersedia sepanjang tahun, dan masih banyak keunggulan lainnya. Semua keunggulan tersebut sudah selayaknya disyukuri sebagai karunia Tuhan kepada bangsa Indonesia.

Salah satu bentuk syukur adalah mengelola keunggulan yang dimiliki dengan cara yang baik. Agar keunggulan dapat menghasilkan kebaikan dan keberkahan, bukan justru bencana dan kesengsaraan. Terkait dengan permasalahan ketahanan pangan, masih banyak yang harus dibenahi oleh negeri ini. Jumlah penduduk Indonesia yang besar, yang selama ini dianggap menjadi salah satu permasalahan ketahanan pangan karena tingkat konsumsi yang besar pula, harus dapat disiasati sehingga justru menjadi potensi penggerak dalam penopang ketahanan pangan. Contoh yang patut kita jadikan rujukan dalam hal ini adalah negara China dan India. Kedua negara meskipun dengan penduduk yang jauh lebih banyak dibanding Indonesia, namun justru jauh lebih kuat dalam permasalahan pangan, bahkan menjadi negara pengekspor bahan pangan.

Lalu apa kunci kedua negara tersebut bisa unggul? Jawabnya adalah penguasaan teknologi. Penduduk yang besar jika dibarengi dengan penguasaan teknologi maka akan menghasilkan sinergi yang dapat mengatasi permasalahan ketahanan pangan di negaranya, bahkan turut membantu negara-negara lain mengatasi kebutuhan pangannya. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah teknologi seperti apa yang wajib kita kuasai agar bisa mencontoh Cina dan India? Jawabnya adalah teknologi yang tepat guna! Jangan sampai teknologi yang dikembangkan para peneliti di negeri ini, khususnya di bidang pertanian menjadi teknologi yang sia-sia dan menjadi luatan kemubadziran karena sulit diakses oleh masyarakat luas.

Prof. Totok di akhir penyampaian materinya mengharapkan mahasiswa muslim, sebagai generasi penerus bangsa ini dapat turut berkontribusi nyata membangun pertanian, dari sektor hulu sampai hilir. Namun yang harus digarisbawahi adalah jika ingin sukses membangun pertanian di Indonesia, para penggeraknya khususnya mahasiswa harus melandasinya dengan perasaan cinta kepada dunia pertanian. Kecintaan itu harus dilandasi nilai ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa (snh).